Museum Memori
Akhirnya blog ini terisi lagi. Sekarang mungkin aku akan bicara banyak tentang kecemasan.
Entah kenapa, kecemasanku terhadap keramaian datang lagi. Aku sensitif dan pusing sekali dengan keramaian. Dengan suara kendaraan. Dengan suara anak-anak kecil yang bersahutan --seringkali-- berbarengan. Rasanya ada banyak sekali suara di telinga dan kepalaku.
Tinggal di pinggiran persis jalan raya, apalagi ini jalan nasional, membuat kepalaku terasa sangat bising dan ingin pecah. Aku ingin sekali pergi ke luar negeri yang lebih ketat aturannya tentang tingkat kebisingan dan polusi suara. Atau kalau tidak di luar negeri, aku ingin punya rumah di tempat yang kesannya terpencil, tak padat dengan rumah-rumah tetangga, jauh dari keramaian. Hanya sungai, dataran tinggi, rumput-rumput, dan curah hujan cukup tinggi.
Aku suka hujan, dan entah kenapa hujan masihlah peringkat nomor satu sebagai obat penenangku.
Karena hujan, patah hati lebih tervalidasi sakitnya. Karena hari-hari hujan, aku bisa menulis dan menggambar dengan tenang. Dan yang terpenting, hujan meredam banyak sekali suara yang tak nyaman didengar.
Kalau saja boleh request, aku ingin hujan setiap hari. Tapi, aku tak ingin mendikte kehendak Tuhan kita. Tuhanlah yang menurunkan hujan, lalu Tuhan pula yang berkuasa penuh mengatur musim-musim dan cuacanya.
Katanya hujan itu satu persennya air, dan sembilan puluh sembilan persennya adalah kenangan. Kepala kita semua, tak hanya aku, aku yakin adalah album dan museum yang isinya kenangan-kenangan. Kadang hati kita menghangat membuka lembar dari lembar album kenangan. Kadang kita juga merasa sakit dengan khidmat menyaksikan orang-orang menjadi antik dan tak bisa kita sentuh lagi di museum kenangan.
Kita hanya pengunjung semua sudut museum tanpa pernah boleh menyentuh semuanya dan semaunya.

