Cerpen: Ailin
by
Iqlima Hawa
- January 24, 2026
Suatu hari dulu, di jalan bernama "Benda" ayah berdiri dan memarkirkan motor kami. Terhampar sawah dan ilalang membentang sama luasnya, aku sedang diajari mengendarai motor, dan ayah sepertinya sudah kelelahan.
"Ini namanya pohon kayu putih,"
Diambilnya sedikit pucuk daunnya,
"Mau coba sniff?"
Aku meraihnya dengan ragu-ragu, memangnya kayu putih yang di kemasan botol itu dari daun sebuah pohon?
Ku-sniff dengan hidungku yang agak mancung, ahaha, lalu, "Loh, betul wangi kayu putih!"
Aku terbelalak, ternyata, jalan Benda, aku baru ingat, ini adalah jalan ketika aku melakukan penelitian tugas mata kuliah Etika Profesi Pendidik, di SMP 3 Benda. Ya, kamu benar, aku kuliah ilmu pendidikan, lebih tepatnya Pendidikan IPA.
Aku hanya punya ayah yang bisa menjawab semua pertanyaan anehku tentang apa saja. Misal kenapa mengkudu di daerah lain disebut pace, kenapa timbangan duduk tak digunakan untuk menimbang daging hari raya, bagaimana cara memahami teori peluang dengan melempar satu koin yang punya dua sisi, angka dan gambar garuda?
Padahal ayahku hanya lulusan SMP.
"Nak, alam semesta terlalu sayang jika dibiarkan membeku selamanya dalam buku paket,"
Kata-katanya seolah membiusku, tiba-tiba aku teringat Mama.
Kenapa Mama tega pergi ke luar negeri hanya untuk cita-cita masa muda yang tertinggal?
Apa yang telah dilakukan Ayah sampai-sampai Ayah yang harus mengasuh dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan konyolku?
Shanghai, ya kota itu. Mama mengajar bahasa Mandarin dengan level tertinggi di sana. Mama tak lagi mengajar seperti anak TK yang hanya mengucapkan, "Ni hao, xie xie, wo xiang ni," Jauh lebih tinggi dari level anak TK.
Aku kasihan pada Ayah yang memendam rindu sejak muda, sejak Mama sudah jadi sarjana lulusan terbaik, summa cumlaude di ibukota. Namun, karena cintanya yang begitu luas dan besar pada Mama, berdasarkan ceritanya dulu, Ayah mempelajari semua hal yang Mama suka. Mulai dari bahasa Inggris, tumbuh-tumbuhan herbal dan khasiatnya, sampai bahasa Mandarin demi bisa mengimbangi Mama.
Ayah tak memulainya dengan ikut kursus di lembaga bersertifikat dan berlisensi. Ayah hanya pergi ke Mang Asrul, penjual koran yang menjajakan koran di terminal dekat kota kecamatan tiap Kamis pagi. Dengan berhutang 2.500 perak yang akan beliau cicil jika sudah punya uang pekan depannya. Beruntungnya, meski tidak bisa berbahasa asing, Ayah tidak buta huruf dan punya minat baca tinggi. Hanya saja, Ayah perlu mencerna bahasan koran lebih lama. Kadang beliau bertanya kepada Mang Asrul apakah Mang Asrul telah membaca koran-koran yang dijualnya, sayangnya, Mang Asrul menjawab,
"Tidak, aku hanya menjualnya dan sibuk setoran,"
Akhirnya Ayah berusaha belajar memahami isi koran sendiri di rumah dari pagi sampai malam, meski di malam hari hanya bertemankan lampu teplok.
Baca reportase, tidak mengerti. Baca sport dan lifestyle, tidak sampai sama sekali istilah gaul itu di otaknya. Membuka koran seluas-luasnya di kamar satu petak, dan hanya menatapi judul besar-besarnya saja. Kadang Ayah lelah, tapi Mama adalah perempuan yang tidak hanya berparas cantik dan cerdas, namun juga berhati baik. Anak peringkat 1 di SMP dan setiap ulang tahun akan mengadakan pesta dan mentraktir anak sekelas.
Meskipun telah menikah, kadang Ayah menangis, kalau di Shanghai Mama bertemu pria yang jauh lebih keren dan cerdas, apakah dirinya tidak mati muda, ya? Menangis di atas alas koran yang kini jadi tempatnya tidur sudah menjadi rutinitas 2 minggu pertama. Tanpa sadar, di awal minggu ketiga, air matanya jatuh, perlahan, lama-kelamaan bertetesan makin banyak ... hingga ...
Telah berpulang ke rumah bapa... Chen Oey Wang, istri yang ditinggalkan. Menantu dan cucu.
Ternyata di koran halaman paling ujung bawah dan terakhir, isinya adalah kabar duka semua orang TiongHoa, orang Cina.
Ayah menelusuri semua nama-nama orang Cina, dan dengan perasaannya yang teringat Mama di Shanghai, dia menelusuri apakah ada nama Mama, Ayah khawatir.
Tapi Mama dulu saat SMP bilang namanya adalah Lin. Ketika ditanya nama lengkapnya, Mama hanya menjawab bahwa namanya hanya Lin. Bahkan setelah menikah hanya diberi satu clue, "Sekarang namaku Ailin,"
Teringat sekali awal perkenalannya saat remaja, "Semua keluargaku hanya punya nama satu suku kata, kecuali orang yang sudah dekat yang bisa kuberitahu nama lengkapku."

