Buku yang Menampar Saya
Ditulis oleh Kak Syahid Muhammad, dengan tokoh utama bernama Ranu, yang diceritakan dalam Unfinished Goodbye sebagai seorang psikolog klinis. Buku ini adalah hadiah dari teman saya, sebetulnya saya dibebaskan untuk memilih judul atau buku mana pun sesuai wishlist saya.
Namun, mengingat saya pernah direkomendasikan teman saya (yang lain), yang sudah sarjana psikologi, saya memilih buku ini.
(Btw, terima kasih teman-temannn 🤍🫶🏻)
Lanjut ...
Kalimat "Ternyata Kita Belum Seselesai itu" di halaman sampul, langsung menarik perhatian saya. Buku ini dan teman-teman saya, seolah menggambarkan dan menasihati saya yang belum selesai dengan diri sendiri dan butuh mengambil jeda, menghargai luka, memulihkan hati, belajar lebih banyak, memaafkan diri, menerima keadaan, berhenti menyalahkan takdir serta orang lain, mencari makna, mengambil sikap.
Penulisnya, Kak Syahid Muhammad, adalah salah satu penulis buku favorit saya. Fokusnya berada dalam ranah kesehatan mental dan relasi dengan orang lain. Baik keluarga, pasangan, teman, orang asing, orang di masa lalu, rekan kerja, senior, junior, hampir semua orang yang ditemui dalam hidup. Saya sudah membaca dua novelnya yang berjudul "Kala" dan "Manusia dan Badainya".
Berikut paragraf kutipan yang bagi saya, begitu 'menegur' dengan sangat lembut. Ya, Kak Syahid Muhammad memang sangat lembut dalam semua karyanya, buku-bukunya tidak bernada sentimentil, judgemental, atau berisi kumpulan teori, namun mereka --karyanya--, adalah manifestasi 'kakak-kakak' yang menemani dengan sabar dan menunjukkan jalan.
---
"Bu Rania meminta Ranu bekerja di kliniknya karena menilai Ranu memiliki objektivitas dan penanganan asertif terhadap klien.
Saat Ranu mengatakan kalau dia akan cuti untuk waktu yang tidak ditentukan, Bu Rania hanya mengangguk-angguk, seolah-olah sudah menduga kalau hari ini akan datang juga.
"Ambil waktu yang cukup untuk memulihkan diri kamu, Ranu, dan ingat, jangan tanggung semua beban ini sendirian di pundak kamu." Cara Bu Rania mewanti-wanti menyiratkan ia tahu apa yang akan terjadi pada Ranu.
Setelah pertemuan terakhir dengan Bu Rania, Ranu menyelami kembali hidupnya. Menyusuri kelokan demi kelokan yang pernah ia lewati, mencari titik lebur kapan semua ini bermula.
Dari pengembaraan itu, ia memahami kembali tabir-tabir makna, melalui peristiwa dan rahasia. Perjalanan pulang menuju dirinya, harus ditempuh melalui petualangan yang melemparnya sangat jauh dari dirinya sendiri. Serta bagaimana ia terlena mencari pulih membuatnya sadar, ia belum benar-benar memahami apa itu 'sakit' dan apa itu 'luka'.
Unfinished Goodbye, hal. 10-11."
---
Mungkin teman-teman saya ingin saya menjadi lebih baik dan tidak menutup diri. Mereka ingin saya lebih bijak dan menghadapi masalah dengan tenang. Tidak reaktif. Tidak terlalu lama menghilang. Tidak berlebih-lebihan.
Mereka bak Bu Rania, dalam buku ini Bu Rania adalah manager sekaligus pemilik klinik tempat Ranu bekerja. Beliau yang membimbing Ranu dan sadar bahwa Ranu belum sepenuhnya menyadari kalau dia belum benar-benar mengenal diri dan rasa sakitnya.
Yang jika ia dan juga saya belum paham tentang rasa sakit pada diri sendiri, saya mungkin berpotensi menyakiti orang lain juga. Secara sengaja maupun tidak sengaja. Secara sadar maupun tidak sadar. Melalui kata-kata, tindakan, atau sesederhana gesture dan raut muka.
Buku ini tidak mudah, pesannya juga tidak mudah, dan saya masih belajar.
Saya sangat suka buku ini dan merekomendasikan teman-teman untuk membacanya.
Namun, big no, untuk teman-teman yang sedang dalam rasa sakit yang sangat parah, karena mengandung adegan percobaan 'bun*h diri' dan dalam buku ini sudah ada peringatan berupa label trigger warning di halaman pertama.
Jadi, jika ada yang ingin sama-sama membaca, bacalah buku ini ketika pikiran sudah tenang, netral, dan jangan dibuka ketika mulai tidak nyaman.
Walaupun diksinya lembut dan manis, namun buku ini dapat memicu rasa traumatis.
Direkomendasikan untuk yang ingin pulih :)
