Semuanya Pelan-Pelan Membaik
Dua hari yang lalu aku pergi bersama ayah dan dua adikku yang masih kecil-kecil. Kami beli mi ayam langganan, melewati persawahan yang menghampar luas sebelum sampai di tujuan.
Ibu penjual mi ayam mengenali kami, aku suka menatap wajah dan mata beliau yang berbinar-binar tiap kali kami sekeluarga mampir ke warungnya. Mi ayamnya enak, bumbu ayamnya meresap dan sebagai pecinta kecap garis keras, aku suka bagaimana ibu mi ayam menaruh kecap sangat banyak di bumbu ayam dan kuahnya.
Ayah baru pulang, beliau bekerja sejak dua bulan lalu di luar kota. Mengawasi para pak tukang membangun rumah kakak sepupuku. Jujur aku bukan orang yang mudah menunjukkan rasa sayang pada keluarga, ayah dan ibuku juga begitu. Tidak ada sapaan "sayang" atau pelukan di rumah. Bagi kami, cara keluarga kami berkasih sayang adalah dengan pergi makan bersama dan saling memberi hadiah satu sama lain sebagai kejutan.
Kami berfoto bersama lalu lanjut makan. Pulangnya kami kembali melewati persawahan yang luas. Pemandangannya cantik, hijau raya-raya. Sebelum sampai di rumah, setelah melalui sawah yang membentang, ada tanah kosong di sisi kanan jalan. Ayah bilang sambil mengendarai motor, "Kalau punya uang, ayah ingin beli tanah di sini dan kita pindah rumah."
"Apakah tidak lebih baik kalau rumah yang sekarang di-renov saja? Atapnya mungkin? Tidak terlalu bagus juga tidak apa-apa." ujarku.
"Justru kemungkinan akan lebih banyak keluar biaya, karena selain atap, rumah kita banyak sekali yang perlu diperbaiki." balas ayah.
"Biayanya berapa?" ujarku dengan pelan yang kemudian dijawab ayahku dengan suara sangat lirih dan aku tak bisa dengar. Sepertinya butuh dana banyak.
Aku mencintai rumahku yang sekarang. Walau rumah kami sangat tua dan atapnya ringkih, rumah ini punya banyak kenangan yang mungkin tak cukup muat untuk diceritakan dalam satu artikel blog. Aku hanya tak suka dengan lingkungan sekitar rumah kami yang padat dan berada di pinggir sangat dekat dengan jalan raya. Membuat sangat sulit tidur karena sangat berisik. Aku membeli headphone untuk meredam kebisingan jalan raya yang juga sekaligus jalan nasional ini supaya aku bisa tidur dengan mendengarkan musik, bukan suara kendaraan. Setidaknya bagiku, musik adalah penyelamat paling mudah saat aku sedang tak menyukai dunia.
Ayah dan ibuku bukan orang kaya, tapi rasanya aku jarang berkekurangan. Beberapa kali memang kami tiba di kondisi tak cukup, namun entah kenapa selalu saja ada rezeki tak terduga yang muncul lewat banyak peluang.
Pada akhirnya, meski dulu ayah dan ibu terasa tak jadi orang tua ideal di mataku, aku bersyukur semuanya pelan-pelan membaik. Ayah sering membelikan hadiah, ibu selalu memasak dengan sangat enak, adik-adik tumbuh sopan dan ceria.
Maka, nikmat mana lagi yang aku dustakan?

0 comments