Empati
Di suatu malam, mungkin harapanmu hanya satu. Menjadi manusia yang lebih baik dari kemarin. Tidak lagi mempunyai banyak asumsi tentang hal-hal dan orang lain yang tak kamu ketahui. Menjadi manusia yang mudah berprasangka baik terhadap kehidupan. Memeluk lebih banyak teman, tersenyum penuh syukur di tiap kesempatan baik yang datang, berkata-kata dengan lebih bijak.
Kamu
mulai menyadari bahwa mendengarkan adalah keahlian yang sangat layak
diapresiasi dan kamu lakukan. Mungkin ada seseorang yang hatinya jadi lebih
ringan saat keluh-kesahnya kamu dengarkan. Mungkin ada teman yang jadi tak lagi
terlalu sedih karena tahu dia punya pendengar. Mungkin pelukanmu terasa begitu
hangat untuk dia yang sedang sendirian.
Ah,
manusia memang unik. Aku takjub bahwa perasaan manusia adalah hal yang penuh
kompleksitas. Banyak sekali spektrum yang menyertai dan jadi nilai hidupnya.
Perasaan manusia tidak selalu bisa didefinisikan dengan, A, B, C, perasaan
manusia tidak selalu hitam dan putih.
Ada
momen dimana kamu yang selalu mendengarkan, juga butuh pendengar. Orang yang
tak lagi memandangmu seperti pahlawan yang selalu kuat. Orang yang tahu bahwa berempati
tidak perlu jadi kewajiban untuk dilakukan setiap detik sebab kamu juga
kelelahan. Biasanya orang-orang ini akan memberimu sebuah dorongan untuk
menerima dirimu sejujur-jujurnya.
Kamu
mendengar dan kamu bercerita. Kamu menguatkan dan kamu dikuatkan. Kamu memberi
semangat dan disemangati.
