Kintsugi
Hari ini, saya mengalami perubahan suasana hati sebanyak empat kali. Pagi cemas, siang hampa, sore terlalu bersemangat, malam tertegun. Adakalanya sebagai manusia saya seperti belum selesai menyusun keping-keping retak perasaan saya. Emosi yang terlalu tidak diberi tempat, disangkal, dan sekalinya dilepaskan; berbahaya.
Manusia tumbuh dari risiko. Manusia bahagia karena keluar dari zona nyaman yang berasal dari risiko. Manusia ceroboh dan reaktif karena tamak ingin mengambil banyak risiko. Dan manusia itu: saya.
Okay, kali ini saya tidak ingin menyangkalnya.
Dalam kehidupan sehari-hari ada yang namanya pergantian waktu. Dan pergantian waktu sudah pasti ada yang berubah bersamaan dengannya. Siang dan malam berganti saja sudah pasti ada maksudnya. Langit yang Allah ciptakan sangat megah itu, pun berganti. Apalagi perasaan kita.
Ada apa dengan empat emosi yang berubah tadi? Mari saya bedah satu-satu, untuk ekspresi diri saya.
1. Saya cemas Ayah saya meninggal.
2. Siang hampa menyaksikan Ibu yang setiap harinya sibuk dengan dapur. Masakan beliau sangat enak. Tapi saya merasakan banyak kehampaan saat Ibu memasaknya. Ibu sejak dulu tidak percaya diri.
3. Sore terlalu bersemangat, karena saya membaca tulisan teman saya yang setiap hari makin berkembang dan saya terinspirasi. Dan mungkin inilah bentuk manifestasi rasa terinspirasi menulis saya.
4. Malam tertegun karena tiba-tiba akun saya di-follow bookstagram yang followers-nya sudah 7 ribu. Dan saya melihat bagaimana dia mengulas buku, menulis, dan berbagi seperti cara saya. Seperti melihat saya pada diri orang lain.
Dan inilah ajaibnya hati manusia! Allah mendesainnya dengan fitrah berbolak-balik sifatnya. Agar kita bisa merasakan marah, lalu sadar. Agar kita bisa merasakan bahagia, lalu lupa diri. Agar kita yang lupa diri dan sombong, lalu menyesal. Agar kita yang sedang menyesal begitu dalam, lalu bangkit.
Dan lalu, seperti kintsugi dalam istilah Jepang: retakan-retakan itu berguna. Karena setiap keping retaknya disusun lagi menjadi utuh. Jadi satu kesatuan walau tidak sempurna seperti sediakala, walau ditambal dan diperbaiki.
Namun ia diperbaiki dengan indah. Dengan emas.
Dan mungkin inilah emosi manusia dan 'terus belajarnya'.
